Tulisan Terbaru

.
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
  • REFLEKSI MAULID NABI : MEMBANGUN DAN MEMBINA HUBUNGAN BAIK*


    Khartoum, 9 Februari 2012. Pembaca, seminggu yang lalu sisi kemanusiaan kita dikagetkan dengan kerusuhan yang terjadi di “Khausyul Kholifah” atau yang kita kenal akrab dengan Lapangan Perayaan Maulid di Umdurman, bentrokan terjadi antara Jama’ah Anshor Sunnah dengan Sufi hingga menyebabkan korban luka dan tempat itu ditutup sementara oleh pihak yang berwajib. Ini adalah sikap terorisme. Kemarin pagi kita baca juga di Surat Kabar bahwa Gubernur Khartoum sudah memberikan instruksi untuk investigasi kasus dan mencari pihak-pihak yang diduga kuat menyulut kerusuhan, fitnah serta adu domba.

    Pasca berpisahnya Selatan, tanah ratauan kita ini dihantam dari segi Perekonomiannya, Barang-barang kebutuhan menjadi mahal, Demonstrasi dimana-mana, Perang Sahabat, Baku Tembak dan gesekan-gesekan lainnya masih sering terjadi. Itupun kita belum lagi berbicara tentang kerusuhan di Timur tengah; Tunisia, Mesir, Yaman, Libya serta Suriah yang telah menelan korban ratusan atau bahkan ribuan orang.

    Fenomena-fenomena ini disadari atau tidak, telah terjadi di tengah-tengah kaum Muslimin dan di negara-negara yang mayoritas penduduknya muslim. Yang mengejar ucapannya “Allohu Akbar!” lalu yang dikejar membalas “Laa ilaha illAllah”.

    Ini semua tentu saja, apalagi Sikap Terorisme dan Perang Sahabat, sangat mencorat-coreti nama baik Islam. Mengapa? Diduga kuat karena belum adanya kesadaran penuh akan ajaran-ajaran luhur yang diperintahkan Islam, kurangnya memaknai, menghayati serta merefleksikannya di dalam kehidupan sehari hari, atau mungkin karena minimnya pengetahuan, gelapnya tujuan-tujuan mulia Islam atau melintirnya pemahaman akan ajaran-ajarannya. Hal-hal semacam inilah yang membuat Umat lemah dan bercerai-berai sehingga mudah dipatahkan dan diadu domba.

    Untuk itu pembaca yang budiman, dengan momentum Maulid Nabi Besar Muhammad SAW dan Peringatan Harlah NU ke-86 ini, marilah kita hayati kembali nilai-nilai agama, ajaran-ajaran, serta keteladanan yang dibawa Rosululloh SAW, tentang perintah kejujuran, amanah, kasih sayang, saling menghormati, giat belajar, bekerja, ikhlas beramal dll. Agar kita menjadi sebuah Umat yang bersatu, bermutu, kuat dan kreatif, kompak bersapu-lidi, sehingga terciptalah sebuah persatuan kesatuan.

    Bukankah Rosululloh SAW berhasil menyatukan pandangan Muhajirin dengan Anshar? Beliau juga berhasil membangun dan membina hubungan internal di Kota Madinah, hubungan antara kaum muslimin dengan tetangganya yang beragama Yahudi dan Nasrani atau sebaliknya, semuanya diatur dengan baik dan adil. Inilah yang harus kita teladani.

    Jika kita baca Sejarah Nabi semenjak beliau diutus menjadi Rasul hingga wafatnya, terkesanlah pelajaran-pelajaran darinya, tentang sebab-sebab kesuksesan beliau dalam membangun dan membina Umat, baik antara kaum muslimin dengan muslimin, ataupun dengan non muslim. Keberhasilan itu dapatlah kita tekankan dengan pembangunan dan pembinaan tiga macam Ukhuwwah sebagai berikut :

    1.    Ukhuwwah Imaniyah (Hubungan Seiman).

    Ini adalah hubungan yang paling mendasar, seorang mukmin dilarang untuk melukai mukmin lain karena “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah diantara kedua Saudara kalian dan bertakwalah kepada Alloh agar kalian menjadi orang-orang yang mendapatkan rahmat” (QS 49:10).

    Perbedaan pendapat dan pandangan adalah hal yang lazim terjadi, namun hal itu jangan sampai menyulut api permusuhan sesama Umat Islam yang hanya akan membuang waktu percuma serta menguras energi untuk sesuatu yang tidak penting, seharusnya dimanfaatkan untuk berfikir, berkreatifitas dan bekerja demi kemajuan dan kemaslahatan.

    Periksalah surat al hujuroh ayat 11 dalam membangun persaudaraan seiman : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelar yang mengandung ejekan. seburuk-buruknya gelar adalah kefasikan sesudah keimanan dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.”

    2.    Ukhuwwah Insaniyah  (Hubungan Sesama Manusia).

    Saat Haji Wada’ Rasulolloh SAW berkhotbah di depan jutaan manusia ketika hari Wuquf di Padang Arafah : “Wahai manusia! sesungguhnya nyawa, harta dan kehormatan kalian adalah Suci terpelihara, seperti sucinya hari wukuf ini, di bulan haji dan negeri  ini.”

    Inilah deklarasi Hak Asasi Manusia; tiga serangkai yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Selama makhluk itu benama manusia, maka nyawa, harta, dan kehormatannya terlindungi. Islam tidak mengenal bahkan melarang terorisme, pembunuhan,  ekstremisme, sikap berlebihan, berpaham sempit, kaku, dan keras apalagi sampai menyebabkan tercorengnya hak asasi manusia sebagaimana telah terjadi. Islam sangat menghormati nyawa, harta, kehormatan dan martabat manusia.

    Sikap ekstrim dan berfaham sempit sudah ada sejak zaman Rosululloh SAW. Suatu ketika disaat beliau membagi-bagikan harta perang Hunain, Sahabat yang senior tidak dikasih, hanya mualaf saja yang mendapatkan jatah, walaupun mualaf tersebut sudah kaya seperti Sahabat Abu Sufyan yang pada waktu itu baru masuk Islam dan mendapatkan seratus ekor onta. Sekonyong-koyong datanglah seseorang yang bernama Dzul Khuaisirah ke hadapan Rasulullah SAW dan berkata “Berbuatlah adillah wahai Muhammad!”.Mendengar perkataan ini Sayyidina Umar RA naik pitam “Bagaimana kalau saya bunuh?”. Nabi diam.

    Setelah orang itu pergi beliau menjawab “Nauzubillah! Apa jadinya jika orang-orang nanti mengatakan bahwa Aku membunuh sahabat-sahabatku sendiri? Akan muncul dari keturunan orang ini kaum yang membaca Quran hanya sebatas tenggorokan mereka saja, mereka meleset dari agama sebagaimana anak panah yang meleset dari binantang buruannya”. Padahal maksud Nabi adalah agar orang-orang yang baru masuk islam itu menjadi kuat islamnya, dan kaumnya ikut masuk islam. Hal itupun terbukti.

    3.    Ukhuwwah Wathoniyah  (Hubungan Sebangsa-Setanah Air).

    Adalah kesadaran persaudaraan satu nusa satu bangsa dan satu bahasa. Baik muslim ataupun tidak, selama masih berada dalam negara yang sama dan selama tidak mengusik Akidah, haruslah kita menghormati hak-hak mereka dalam menjalankan ibadahnya masing masing.

    Periksalah sejarah bagaimana Rasulullah sukses membangun masyarakat di Kota Madinah, beliau berhasil menyatukan pandangan penduduk Yatsrib yang terdiri dari banyak etnis dan suku, yaitu Pendatang, Pribumi; suku Aus dan Khazraj, dan Yahudi; Bani Qainuqa’, Bani Nadzir, Bani Quraidzah.

    lihatlah Piagam Madinah yang mengatakan “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Piagam ini dari Nabi Muhammad saw, yang berlaku bagi Kaum Mukminin dan Muslimin dari Bangsa Quraisy dan Yatsrib serta kelompok-kelompok yang turut berkerja sama dan berjuang bersama-sama mereka, bahwa mereka adalah bangsa yang satu...”

    Semua golongan mendapatkan haknya, terlindungi harta jiwanya, keamanan, keadilan dari pemerintahan yang dijalankan Rosululloh SAW. Bagi yang berkhianat beliau sangat tegas dan tidak lalai. Keseriusan Nabi dalam menjalankan isi Piagam Madinah terbukti dengan beberapa hal :

    1.    Suatu ketika ada seorang muslim membunuh Yahudi, Nabi pun marah besar. Beliau mengumpulkan dana untuk Ahli Waris Yahudi tersebut, dan Nabi bersebda “Barang siapa membunuh non muslim maka dia akan berhadapan denganku!”
    2.    Suatu ketika ada jenazah lewat, Rasululloh pun berdiri. Sahabat berkata, “Itu tadi yang lewat jenazah orang Yahudi!”. Rosul menjawab, “Bukankah dia nyawa manusia juga?
    3.  Suatu ketika Usamah bin Zaid bin Harisah menangkap maling perempuan yang berasal dari keluarga terhormat Bani Makhzum (red.). Karena melihat latar belakang wanita tersebut, Sahabat Usamah bermaksud membebaskannya. Mengetahuai keinginan Usamah itu Rasulullah marah dan memperingatkan “Demi Allah wahai Usamah! andaikan Fatimah anakku sendiri mencuri, niscaya aku akan potong tangannya!”.

    Pembaca, untuk itu dengan Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW dan Peringatan Harlah NU ke-86 ini, marilah kita hayati kembali nilai nilai agama, ajaran-ajaran, serta keteladanan yang dibawa Rosululloh SAW dengan membina tiga macam hubungan ini.




    ___________________________________________


    * Buletin al-Hijrah Edisi Maulid Nabi dan Harlah NU ke 86, di KBRI Khartoum, Sudan.

    more
  • PANGLIMA ISLAM IMADUDDIN AZ-ZANKI

    Inilah kata-kata Panglima Islam Imaduddin az-Zanki saat berunding dengan Pimpinan Pasukan Salib yang membuatnya menggigil ketakutan hingga Syam dapat dibebaskan dari Pasukan Salib.

    1. "Dengarkan, aku tidak akan pernah minum darah dan najis sebagaimana kalian, kecuali di medan perang!".

    2. “Saat kulihat soerang ksatria mengenakan jubah besi, maka saat itu juga kutahu bahwa dihatinya masih ada rasa takut”.

    3. “Wahai tuan raja, ini hadiah emas untukmu, aku tidak akan memintamu membalas hadiah ini, karena nanti akan kuambil sendiri darimu sebagai rampasan perang.

    4. " Wahai tuan raja, jangan kau jaga anak-anak dan istri-istrimu, biarkanlah mereka, aku pastikan semuanya akan aman,namun jagalah nyawa dan hartamu, karena keduanya itu yang aku jamin tidak akan aman”

      more
    • NOTA HUSNI MUBAROK DAN AIR SUNGAI NILE YANG BANJIR
      Kemarin tepatnya tanggal 20 Agustus 2010 Presiden Republik Mesir Husni Mubarok mengeluarkan nota yang isinya menyangkut permasalahan pengelolaan Air Sungai Nile Pasca Kesepakatan "Ettenbe" di Uganda yang didatangani oleh empat dari tujuh Negara-negara Sumber Nile yaitu; Etihopia, Uganda, Tanzania dan Rwanda. Kesepakan itu berbicara tentang pengeloalaan air, batas dan isi yang dikandung sungai Nile. Memang telah ada kesepakatan tahun 1929 namun hanya antara Mesir dan Inggris saja.

      Nile selain berperan sebagai Sumber Daya Alam melimpah di timur tengah ia juga tidak lepas dari permasalahan-permasalahan, mengingat adanya Negara Sumber Nile yang merasa dirugikan pada haknya, maka kesepakatan itu perlu di tinjau kembali. Begitulah kurang lebih ceritanya.

      Nota Pak Husni tadi diterjemahkan oleh DR. Nashruddin Allam Menteri Pengairan Sumber daya Air Mesir melalui Dialog dengan Pemerintah Sudan salah satu dari Negara-negara Sungai Nile yang sama-sama tidak "diajak" dalam kesepakatan Ettenbe. Yang jelas Mesir dan Sudan akan menolak kesepakatan. Namun belum ditentukan kapan waktu dan dimana tempat dialognya. Untuk DR. Kamal Ali harus siap-siap untuk ikut rapat.

      Yang tadi Cerita Politik. Marilah kita menuju Sungai Nile. Kurang lebih dua minggu lalu Nile Banjir Bandang. Sejak tahun 2006 Nile belum pernah banjir seperti sekarang. Biasanya banjir paling-paling mencapai satu meter saja diatas batas normal Namun kali ini dapat mencapai 3 meter atau lebih, karena air sudah mencapai pembatas Nile di depan Istana Negara yang tingginya ±5 meter. Pepohonan Rimbun diantara Jembatan Futihab lenyap ditelan air. Bahkan sawah-sawah disamping Akademi Militer Omdurman habis terendam air. Yang jelas banjirnya tidak seperti biasa.

      Timbul pertanyaan, ini peringatan dari Sungai Nile? Atau memang gejala Alam biasa?

      more
    • MAKNA TERSIRAT DARI SYAWWAL

      24 September 2009. Ramadhan 1430 H terasa cepat sekali, sekarang telah pergi meninggalkan kita. Mudah-mudahan Ramadhan dapat menjadi media pendidikan yang berbekas pada diri kita. Amin. Hari ini tanggal 1 syawwal 1430 H. kita duduk bersama dalam satu tempat, berzikir, mengumandangkan takbir, melempar senyum dan rasa bahagia. Kita terseyum menang, setelah sebulan penuh berjuang melawan hawa nafsu.

      Meskipun jauh dari tanah air tercinta, tentunya itu tidak mengurangi kegembiraan dan rasa syukur kita kepada Allah SWT. Kaya, miskin, hitam, putih, pelajar, pekerja, pelaut, sopir, pedagang dan semua kaum muslimin di seluruh penjuru dunia saat ini bersatu dalam zikir dan syukur. Bibir-bibir yang bergetar dan menggigil dalam takbir. Satu syawwal, hari yang bersejarah, penting, indah, mahal, tidak ditawar, dan merupakan hari yang penuh makna bagi kita selaku muslim tentunya. Sesungguhnya ia hari jati diri manusia yang telah digebleng pada bulan ramadhan.

      Marilah kita simak apa itu "Bulan Syawwal''?

      Syawwal diambil dari kata “syaala-yasyuulu-syawlan” yang bermakna mengangkat dan terangkat. “Syaala syaian” berarti dia mengambil sesuatu. Dan “Syaala azDzanabu”, ekor itu terangkat. Selendang dinamakan “Syaal” karena terangkat diatas pundak. Unta yang sedang birahi untuk kawin dinamakan “Syaail” karena ekornya selalu diangkat keatas. Si Kuli panggul dinamakan “Syayyaal” karena kerjanya mengangkat barang-barang. Kalau ada pedagang berkata "Syil..!" (angkat itu barang) itu berarti harganya sudah sesuai.

      Syawwal adalah bulan kesepuluh dari bulan-bulan Qomariah, yang berada diantara Ramadhan dan Dzilqa’dah; dinamakan Syawwal karena -saat itu- banyak unta yang mengangkat ekornya (musim kawin unta). Dari pemaknaan kata syawwal diatas, ada makna tersirat, bahwa Syawwal jangan hanya bermakna mengangkat; terangkat saja, melainkan, dan tentu, secara luas juga dapat “mengangkat” berbagai kredibilitas dan potensi yang ada pada diri kita masing-masing, baik rohani maupun jasmani.

      Momentum Syawwal ini mudah-mudahan dapat memicu diri kita untuk dapat meningkatkan kembali sumber daya manusia. Jika hasil kemarin sedikit, maka esok atau lusa harus meningkat. Jika ada kemenangan yang sempat tertunda, maka biarlah pertimbangkanlah rencana selanjutnya. Jika kita sempat jatuh dalam lumpur, maka jadikanlah itu bahan introspeksi untuk langkah kaki esok hari.

      Allah SWT berfirman dalam ar-Ra’d ayat 11, “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib dari suatu kaum, kecuali mereka sendiri mau mengubahnya“. Artinya, jika mereka mau berusaha untuk merubah nasib dengan meninggalkan hal yang telah membuat mereka jatuh dalam kegagalan lalu menggantinya dengan perbuatan yang lebih produktif, konkrit, efektif, baik, nyata dan terencana. Tentu dalam otoritas kehendak Allah SWT. So, marilah dengan datangnya bulan syawwal ini kita mulai lagi mencari, menambal, memperbaiki, mengangkat, serta introspeksi. Agar tujuan maknanya tidak meleset dari apa yang tersirat dalam kata syawwal.

      _________________
      ( Tulisan ini pernah di terbitkan dalam Buletin Tathwirul Afkar edisi lebaran )

      more
    • FLU BABI
      28 April 2009. Babi. Pernah lihat babi? Makanan jadi berlabel haram karena mengandung babi. Ada tebakan jenaka: Binatang apa yang paling haram?? Jawabannya adalah "Babi hamil", karena sudah babi, mengandung babi lagi!

      Bicara tentang babi, marilah kita mulai dari berita di stasiun TV al-Jazirah yang menceritakan tentang wabah virus Flu Babi yang menggoncangkan dunia. Di Cina sudah ada 8 orang yang terkena virus flu babi. Indonesia memasang alat pendeteksi suhu di bandara dan pelabuhan dalam rangka mewaspadai wabah ini. Flu babi sampai detik ini belum ditemukan penangkalnya. Kita doakan semoga segera ditemukan obat penangkalnya.

      Babi adalah binatang kotor. Memakan segala sesuatu yang kotor; kotorannya sendiri sampai kotoran manusia. Secara psikis babi memiliki tabiat yang malas, takut matahari, kerjaanya makan dan tidur, tamak, serta membosankan. Berikut ini data yang didapatkan dari internet tentang sumber penyakit yang dikandung tubuh babi :

      Cacing Taenia Sollum
      Akrabnya cacing pita. Berupa larva bergelembung pada daging babi atau berbentuk butiran-butiran telur pada usus babi. Jika ada yang memakan daging babi tanpa dimasak dengan baik, maka cacing ini tidak mati dan masuk ke perut dan panjangnya bisa mencapai lebih dari 3 meter. Cacing ini akan melekat pada dinding usus dengan cara menempelkan kepalanya lalu menyerap unsur-unsur makanan. Lalu ia ke peredaran darah dan menyebar ke seluruh tubuh, termasuk otak, hati, saraf tulang belakang, dan paru-paru.

      Cacing Trichinia Spiralis
      Tinggal di otot dan daging manusia. menyekat di antara paru-paru dan jantung. Cacing ini dapat menyebabkan rasa sakit yang luar biasa dan menyebabkan gerakan lambat pada otot. Keberadaannya yang terlalu lama akan mempersempit pernafasan, yang bisa berakhir dengan kematian. Bisa jadi cacing jenis ini tidak akan membuat seseorang meninggal dalam waktu singkat. Namun patut diketahui bahwa cacing-cacing kecil yang berkembang di tubuh seseorang akan menetap di sana hingga orang itu meninggal dunia.

      Cacing Schistosoma Japonicus
      Babi adalah satu-satunya binatang yang mengandung cacing ini. Cacing ini dapat menyerang manusia apabila mereka menyentuh atau mencuci tangan dengan air yang mengandung larva cacing yang berasal dari kotoran babi. Cacing ini dapat menyelinap ke dalam darah, paru-paru, dan hati. Berkembang dengan sangat cepat, dalam sehari bisa mencapai lebih dari 20.000 telur, serta dapat membakar kulit, lambung dan hati. Terkadang juga menyerang bagian otak dan saraf tulang belakang yang berakibat pada kelumpuhan dan kematian.

      Fasciolepsis Buski
      Parasit ini hidup di usus halus babi dalam waktu yang lama. Ketika terjadi percampuran antara usus dan tinja, parasit ini akan berada dalam bentuk tertentu yang bersifat cair yang bisa memindahkan penyakit pada manusia. Kebanyakan jenis parasit ini terdapat di daerah Cina dan Asia Timur. Parasit ini bisa menyebabkan gangguan pencernaan, diare, dan pembengkakan di sekujur tubuh.

      Cacing Ascaris
      Panjangnya sekitar 25 cm. Cacing ini bisa menyebabkan radang paru-paru, radang tenggorokan dan penyumbatan lambung. Jika sudah masuk ke dalam tubuh, ia tidak dapat dibasmi kecuali dengan cara operasi.

      Calornorchis Sinensis
      Menyelinap di dalam air empedu pada hati babi, yang merupakan sumber utama penularan penyakit pada manusia. Ia bisa menyebabkan pembengkakan hati dan penyakit kuning yang disertai dengan diare, tubuh menjadi kurus dan berakhir dengan kematian.

      Cacing Paragonimus
      Cacing ini hidup di paru-paru babi. Ia menyebabkan radang paru-paru dan pendarahan paru-paru kronis, akibatnya penderita akan merasa sakit, ludah berwarna cokelat seperti karat.

      Swine Erysipelas
      Adalah parasit yang terdapat pada kulit babi. Menyebabkan radang kulit yang memperlihatkan titik-titik merah dan suhu tubuh tinggi.

      Tuhan kita yang sangat mengerti settingan tubuh kita berfirman "Sesunggguhnya Dia hanya haramkan bagi kalian bangkai, darah, daging babi dan binatang yang disembelih atas nama selain Allah.." (QS 1:173). Tuhan kita yang ingin kita sehat berfirman dalam ayat lain: "Katakanlah hai Muhammad: " Dari apa yang diwahyukan kepadaku, aku tidak mendapati makanan yang diharamkan bagi yang ingin memakannya, kecuali makanan itu berupa bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi -karena sesungguhnya semua itu kotor- atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah". (QS 6:145).

      Allah tahu batas kemampuan tubuh kita dalam mencerna makanan. Dia tau bagaimana tubuh kita bertahan. Apa yang baik bagi tubuh dan apa yang tidak. Ia desain tubuh kita sedemikian baiknya. Ia tahu betul dimana kelemahan kita sebagai ciptaanNya. Allah SWT berusaha untuk melindungi diri kita. Sudahkah kita menyadari hal ini??

      more
    • SUDAN-CINA = BUAYA - BURUNG
      2 April 2009. Pagi ini di stasiun TV al-Shouroq ada berita tentang hubungan baik Sudan dengan Cina. Stasiun TV milik sudan yang bertempat di Dubai ini mengabarkan bahwa Sudan sangat terbuka dan berharap agar Warga Negara Cina lebih banyak lagi untuk berinvestasi di Sudan, khususnya pada blok-blok perminyakan di sekitar Sinja.

      Seiring dengan meningkatnya kerjasama Sudan-Cina khususnya dalam bidang ekonomi yang puncaknya pembelian senjata buatan Cina, hubungan bilateral Sudan-Cina semakin baik saja. Ini patut kita syukuri meskipun Cina hanya suka ''bekerjasama'' di bidang ekonomi saja. Kita doakan semoga kedua belah negara dapat saling memberikan manfaat baik.

      Pernah lihat Buaya dan Burung? Kalau burung tentunya sering. Namun buaya mungkin jarang. Sudan dan Cina ini seperti Buaya dan Burung. Mereka itu pintar. Selesai makan, buaya membuka mulutnya lebar lebar-lebar, giginya yang lebih besar dari kepalanya dipamerkan. Untuk apa? Agar burung-burung kecil datang dan memakan sisa-sisa daging yang tersangkut di mulut buaya tersebut, burung itu masuk kedalam taring buaya yang tajam dan bersantai ria disana, kalau mau, Sang Buaya bisa saja memakan-nya dengan mudah, namun Buaya tidak pernah memakannya, Buaya tahu bahwa ia akan diuntungkan dengan kebersihan giginya, seandainya tidak ada burung yang menyuliti sisa-sisa tadi maka buaya akan sakit lantaran bakteri di mulutnya.

      Burung pun begitu, seharusnya ia tidak harus mengambil resiko untuk pergi kedalam mulut buaya demi mencari makan, bisa saja ia mencari cacing di darat. Burung berani karena diuntungkan, ia dapat makan dari sisa-sisa makanan buaya, keduanya saling mendapat untung. Dalam konteks ini, sudahkah anda menjadi seperti Buaya dan Burung?

      more
    • MANDOR DAN PEKERJANYA
      Bagi mahasiswa, ada saat-saat dimana kiriman bulanan terlambat yang membuat mereka terkadang mengeluh-eluh ''Gak jajan deh''. Begitu juga para pegawai negeri atau bukan negeri dibuat yang uring-uringan dengan gaji yang belum sampai hari turun-nya.

      Betapapun nasib, keduanya masih beruntung dibandingkan saudara kita yang berada pada garis kemiskinan atau dibawah garis itu. Jangankan gaji bulanan, malam-malam saja belum tentu bisa dinikmati dengan tidur nyenyak lantaran perut yang keroncongan. Ada juga keadaan yang sampai memaksa mereka berkata ''Tuhan dimana engkau? Bukankah engkau janjikan rezeki bagi setiap makhlukmu?''. Kenyataan sosial masyarakat yang sering kita jumpai. Menarik bukan? ini patut kita perhatikan.

      Marilah kita bercerita tentang seorang mandor dan anak buahnya yang malas. Dalam sebuah konstruksi gedung tinggi nan indah. Namun sayang, gedung tinggi dan indah itu tidak segera selesai. Sampai melebihi waktu proyek masih belum juga selesai. Meskipun pemalas, Sang Mandor sangat mencintai pekerjanya. Ia berharap esok anak buahnya bisa bekerja dengan rajin. Berkali-kali ia menegur pekerjanya

      Suatu hari seperti biasa ia hendak menegur salah satu pekerjanya yang sedang malas. Lalu ia berfikir untuk menjatuhkan sesuatu tepat di atas kepala pekerjanya itu agar si pekerja mau menengok keatas dan mendengarkan perintahnya. Sang mandor melemparnya dengan uang logam. Pluk! uang logam mengenai kepala pekerja. Namun sayang ia tidak menengok keatas malahan sibuk mengambil uang tersebut. Mandor kembali menjatuhkan uang, hal yang sama kembali terjadi sampai tiga kali. Untuk ke empat, sang Mandor mengambil batu lalu melemparkannya ke pekerja malas tadi, ternyata dengan batu barulah si pekerja mau menengok keatas. Hei! siapa itu yang ngelemparin batu!!

      Kita sebagai makhluk Allah telah mendapatkan kenikmatan yang kita sendiri tidak bisa menghitungnya, baik berupa rezeki, kesehatan panjang umur, kesempatan belajar dan lain-lain yang tiada henti-hentinya. Apakah kita sudah menyadari siapa yang memberikan rezeki itu? Maukah kita menegadah keatas untuk bersukur padanya? Sederhana memang, namun penting. Ataukah kita menunggu batu.

      more
    • DO'A

      Ya Allah aku tidak tahu sampai dimana kesombonganku.
      Tidurku tidak sibuk denganmu.

      Ya Allah berikanlah aku sadar dan sadar.
      Pada setiap gerak-gerik yang menguasaiku.

      Ya Allah aku belum tersadar di dalam sholatku di depan siapa aku?
      Ya Allah aku mohon hentikan semua kejelekan-kejelekanku ini.

      Tutupi semua dosaku dan dosa orangtua, keluarga, guru dan teman-temanku.
      Di indonesia di sudan di cairo.

      Ya Allah aku tersesat dan terjebak jika melepaskan bimbinganmu.
      Aku ngawur dan terjeblos tanpa uluranmu.

      Penuhilah rongga dengan cintamu dan cinta orang yang kau cintai.
      Tolong jangan biarkan aku tenggelam sedetik saja ya

      25 Mei 2008.

      more
    • BULETIN KHUSUS KONFERCAB VII NU SUDAN

      I. PENDAHULUAN.

      Hari kemarin adalah sejarah, jadi perlu dijadikan pelajaran. Hari ini adalah kenyataan, jadi harus dioptimalkan. Sedangkan hari esok adalah masa depan, jadi wajib dibicarakan sekarang juga.

      Semenjak kehilangan sekertariat pada akhir 2005, Nahdlatul Ulama Khartoum sudan mengalami masa-masa sulit. Sekertariat yang dijadikan tempat untuk menjalankan program kerja dan hal lainnya seperti pusat kegiatan, tempat musyawarah, berkumpul dan menyatukan konsep, bahkan sebagai "rumah kost" bagi sebagian kawan-kawan. Kami terpaksa gulung tikar karena berbagai kesulitan administrasi.

      Kenyataan ini membawa dampak yang cukup signifikan, dengan kehilangan kantor, banyak program kerja yang tidak terlakasana dengan baik, pertemuan semakin terasa sulit sehingga komunikasi-pun terhambat seiring dengan menyebarnya warga NU di tempat yang berjauhan. Jika boleh diibaratkan bagaikan sebuah perahu layar bocor yang hampir tenggelam. Keadaan semacam ini pernah dialami oleh nahdlatul ulama Khartoum sudan, tentu saja hal ini perlu untuk dijadikan pelajaran.

      Waktu bergegas. Kepengurusan berganti. Tahun 2007 Di bawah pimpinan Muhammad Shohib Rifa'i sebagai Ketua Tanfidzi, bau-bau kemajuan sudah mulai tercium. Terbukti dengan meluasnya jaringan yang terjalin antara pengurus dengan pihak KBRI dan pihak lain dari berbagai instansi penting sudan yang misinya se-iya dengan misi NU. Puncaknya Nahdlatul Ulama sudan terdaftar resmi pada kementrian urusan dakwah Sudan. Ini merupakan sebuah prestasi dan tolak ukur penting, karena semua program yang dilaksanakan NU akan didukung sepenuhnya oleh badan tersebut, baik secara instansi ataupun dorongan pribadi.

      Dugaan ini terbukti dengan bertambahnya jaringan. Nahdlatul ulama semakin terdengar di telinga Sudan. Mulai dari kementrian, Universitas al-Quran al-Karim, Badan Bakat, Kantor Urusan Pelajar Asing, Majlis Dzikir wa az-Dzakirin, Kantor urusan Haji dan Umroh, Majma Fikih Islam, al-Hasanain corp, dll.

      Waktu kembali bergegas. Kepengurusan yang telah dipikul Cak Shohib dipikul Mirwan Akhmad Taufiq dari Mojokerto. Prestasi yang telah berhasil dicapai oleh kepengurusan sebelumnya berhasil dipertahankan. Meskipun tentunya tidak terbebas dari kekurangan disana sini. Hal ini terbukti dengan menambahnya semangat ke-NU-an warga NU. Kajian-kajian peningkatan SDM mencapai prestasi yang baik. Itu diantara warga NU sendiri maupun tenaga kerja Indonesia yang berada di Sudan. Pengajian al-Hijrah yang ditangani secara intensif oleh Lembaga Dakwah memberikan kontribusi besar bagi para Tenaga Kerja Indonesia yang tentunya membutuhkan keseimbangan antara dimensi spiritual dan kerja.

      Dimasa kepengurusan Mirwan, ada catatan penting lainnya yang mesti dibaca juga, seperti dibentuknya Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama, Badan Bantuan Mahasisiwa Indonesia, Majlis Ta'lim Riyaadul Muhibbin, Safarina Travel untuk Haji dan Umrah, Sanggar Seni Budaya. Memang, meski tidak semuanya resmi mengikut kepada NU, namun hal ini patut diperhitungkan karena lahir dari kreativitas warga NU juga. Puncaknya dengan didapatkannya kembali sekertariat yang telah dirindu-rindukan sekian waktu. Inilah potret kemajuan PCI dua tahun belakangan. Pasca kedatangan penulis di Khartoum.

      Tentunya kepengurusan keduanya tidak berjalan mulus seratus persen, melainkan sebagai ada kekurangan-kekurangan disana sini yang perlu dicek ulang dan diperbaiki. Ke arah inilah penulis titik beratkan pembicaraan kita.

      II. PEMBARUAN MENUJU PERUBAHAN

      Konsep pembaruan yang diusulkan disini sebenarnya bukan barang baru lagi. Kita barangkali pernah mendengarnya di televisi ataupun media lain, namun penulis kira kesempatannya sangat tepat disaat konferensi seperti ini. Sebelumnya marilah kita cermati falsafah sebuah baju baru. Baju yang baru saja kita beli di supermarket atau pasar tentu warnanya masih cerah, kainnya licin dan baunya segar, kitapun merasa nyaman mengenakannya. Setelah lama dipakai, dipastikan baju tersebut warnanya akan berubah menjadi kusam, kainnya lecek dan baunya tercium kurang sedap. Kitapun merasa malas dan malu untuk megenakannya. Nah, baju ini agar dapat menjadi seperti baru kembali membutuhkan sebuah ''Pembaruan'' yaitu dengan cara dicuci menggunakan air bersih. Maka ia akan terlihat seperti baru lagi. Maka mencuci baju adalah memperbaharuinya.

      Bukan hanya baju, namun segala sesuatu membutuhkan pembaruan. Rumah, gedung, kantor, pernikahan, pekerjaan, undang-undang dsb bahkan agamapun membutuhkan pembaruan. Apa itu pembaruan? Secara epistimologi, pembaruan adalah mengembalikan sesuatu sehingga terlihat seperti baru lagi. Memperbarui baju yang kotor adalah dengan mencucinya sehingga terlihat bersih, pembaruan dalam agama adalah menghidupkan kembali ajaran-ajaranya. Pembaruan tidak selalu identik dengan mengubah atau menggantikan, melainkan lebih dekat kepada penyesuaian konteks.

      Seperti baju dan agama, Nahdlatul Ulama Khartoum Sudan-pun membutuhkan pembaruan disana-sini. Banyak hal yang harus diperbarui. Struktur kepengurusan, manajemen, program kerja dsb harus diperbarui dan dicek ulang untuk disesuaikan, begitupula semangat kebersamaan warga NU dalam menjalankan tugas-tugas tersebut. Dengan mendengar "cerita-cerita sedih" yang melengkapi sejarah NU Sudan, kemudian menemukan konsep pembaruan sebagai tawaran koreksi, maka sudah seharusnyalah kita menyadari akan pentingnya sebuah pembaruan untuk menuju kearah perubahan yang lebih baik lagi.

      Seperti yang ditulis Rovita AZ dalam artikelnya, konferensi adalah forum tertinggi dari sebuah organisasi. Karena ia membicarakan visi, misi dan langkah kedepan. Tak pelak lagi sebuah organisasi jika tidak maksimal menggunakan momentum ini, maka organisasi tersebut diduga keras akan gagal melangkah ke depan.

      III. PENUTUP - DOA

      Maka dengan diadakannya acara semacam konferensi inilah kita berharap ia dapat menjadi semacam tolak ukur kemajuan dan perubahan kearah yang lebih baik dari sebelumnya serta dapat menentukan sosok pimpinan yang mampu menjalankan misi tersebut. Bukan hanya NU Sudan, namun organisasi lain baik kemahasiswaan ataupun bukan patut memperhitungkan pembaruan semacam ini. Amin.

      Tulisan ini dimuat pada Buletin Khusus KONFERCAB VII Nahdlatul Ulama Sudan di Auditorium H. Agus Salim KBRI Khartoum Sudan. 19 Okt 2008.

      more
    • BAGAIMANA ISLAM TERSEBAR DI AFRIKA?
      I. PENDAHULUAN

      Di tanah air, sepanjang yang penulis ketahui -mudah-mudahan salah- biasanya ketika orang mendengar kata Afrika, yang tergambar di benak mereka adalah sebuah potret dari kelaparan, gersang, kekurangan air, ketertinggalan zaman dan bahkan lebih parah lagi benua belum mempunyai kemajuan.

      Dugaan-dugaan ini tidak sepenuhnya benar, memang ada, tetapi banyak yang sebaliknya. Hal yang dikhawatirkan adalah jika asumsi sementara orang begitu, maka mereka akan menafikan peradaban Afrika di masa lalu. Justru sebagaimana yang diceritakan oleh buku-buku sejarah, banyak kebudayaan yang telah dirintis disana, ilmu pengetahuan dan peradaban berkembang pesat jauh sebelum peradaban lain terdengar di telinga.

      Afrika (africa) seperti yang sudah dikenal orang banyak adalah sebuah nama dari salah satu diantara 5 Benua di dunia. Dalam bahasa arab ia biasa diistilahkan dengan kata "al-Qaarah al-Ifriqiyaa" atau "al Qaarah as-Samraa" (benua coklat). Menurut para ahli bahasa, kata Afrika diambil dari nama salah satu Kabilah Barbar yang disebut "Afarck" atau Afarickga". Kabilah ini hidup dan tersebar di sebelah utara Benua Afrika dekat Tunisia. Masih menurut mereka juga, bahwa penamaan Benua ini diberikan oleh golongan "Fiiniqiyyun" (para saudagar yang mengadakan pelayaran perdagangan) pada masa sebelum emperium romawi berkuasa di Afrika.

      Penduduk Asli Benua Afrika.
      Menurut penuturan sejarah, Benua Afrika ditinggali oleh berbagai macam suku dan golongan. Mereka membuat kebudayaan dan peradaban yang mempunyai karakter berbeda satu dengan lainnya. Secara umum kebudayaan-kebudayaan mereka berbicara tentang kemasyarakatan dan perekonomian (dagang). Jika dilihat dari segi keagamaan, penduduk Benua Afrika menyembah binatang dan keajaiban alam, seperti gunung, pohon besar dsb. Diantara suku-suku asli Afrika adalah:

      1. Suku Banto.
      Tersebar di sebelah selatan benua, mereka mempunyai cabang, antara lain Suku Zoulou yang memiliki tempat tinggal di tepi pantai timur hingga selatan Benua, Suku Kikiyo, Suku Masay di Kenya dan Bancka di Uganda serta Suku Bassmen dan Aqzeam. Karena menempati daerah pesisir pantai, mereka semua hidup bergantung pada hasil peraian dan sedikit yang bergantung dengan hasil perkebunan. Selain itu, ada juga sebuah golongan di ujung selatan Benua Afrika yang bernama "Honontout", mereka bertani dan menggembala.

      2. Etnis "Sawahili''.
      Banjir besar yang menyebabkan jebolnya bendungan "Ma'rib" di negri Yaman telah mengakibatkan banyak dari kabilah dan suku-suku yang ada disana hijrah secara besar-besaran. Diantara kabilah yang ikut hijrah adalah kabilah "Habasyat". Mereka pergi dari Yaman ke sebuah tempat yang kemudian tempat itu diberi nama Habasyah (sekarang kita kenal dengan Ethiopia) dan bercampur baur dengan penduduk setempat. Dari hasil percampuran antara kabilah Habasyat dengan penduduk asli inilah terlahir Etnis Sawahili.

      3. Suku-suku lainya adalah Jala, Danaqel, Somalia dan Itsyubiyuun (penduduk asli Ethiopia). Di sebelah utara tinggal kabilah Afarck, mashriyyin (pendatang Mesir), Nouba dan Barbar. Di sebelah barat suku Hausa, Fullani, Shanjae, dan Madingjo. Suku Madingjo mempunyai cabang yaitu suku Maleng, Bambara, Deola dan Shonink. Suku-suku inilah yang menjadi cikal bakal Kerajaan Islam Ghana di sebelah barat benua pada abad pertama masehi.

      Dalam melanjutkan kehidupan, kebanyakan mereka bergantung pada pertanian, dan bergabai macam perdagangan seperti perdagangan gading gajah, emas, kulit, bulu unggas dan mutiara. Setelah membicarakan penduduk yang pernah tinggal Afrika, kita akan membicarakan faktor-faktor terpenting yang menjadi tonggak penyebaran Islam di Benua Afrika


      II. BAGAIMANA ISLAM TERSEBAR DI AFRIKA?

      Pada dasarnya, jika membicarakan faktor yang memiliki andil besar dalam penyebaran Islam di Afrika itu terpusat pada dua hal; Pertama, karakter penduduk asli Afrika yang terbuka dan mudah tertarik dengan hal yang serba baru, sehingga ketika Islam masuk menawarkan konsep-konsepnya -seperti penghormatan terhadap orang tua, kejujuran dalam berdagang, akhlak mulia kepada sesama serta persamaan golongan- mereka segera menanggapinya dengan senang hati.

      Kedua, kondisi alam Benua Afrika yang tidak dapat menyediakan semua kebutuhan hidup penduduk, sehingga hal ini ketika tercium oleh para pedagang, pelayar dan pelancong, mereka segera tertarik untuk menjajakan tawaran dagangan-nya. Selain berdagang dan membuat jalur baru, mereka juga menawarkan Islam. Inilah gambaran cuaca yang membantu penyebaran Islam di Afrika. Pada cuaca seperti inilah lima faktor utama penyebaran Islam di Afrika berperan, yaitu Pembebasan (jihad), Ajaran Sufi, Perdagangan, Para Ulama dan Muballigh serta Konsep Persamaan Golongan. Semuanya akan kita bicarakan sebentar lagi.

      1. Pembebasan (jihad).
      Di dalam Islam, pembebasan ini diistilahkan dengan Jihad atau Qitaal. Jihad memiliki peran terpenting dalam penyebaran Islam di Afrika. Dalam literatur arab baik klasik maupun kontemporer, makna jihad tidak seperti hal yang diklaim oleh sebagaian Orientalis Barat yang mengatakan bahwa Jihad adalah sebuah bentuk dari terorisme dan penghancuran, hal ini perlu di rekaji ulang karena jika dibiarkan, pada ujung-ujungnya akan berakhir pada sebuah asumsi dan tuduhan bahwa Islam itu tersebar dengan pedang (paksaan).

      Selanjutnya kita perlu mengetahui hakikat jihad itu sendiri. Secara etimologi, jihad berarti mengerahkan kemampuan. dan epistimologinya adalah memerangi kaum kuffar/non muslim yang menguasai sebuah wilayah setelah ajakan perdamaian dan penolakan mereka. Jihad mempunyai beberapa karakteristik, yang paling menonjol adalah pembebasan rakyat yang dikuasai oleh kerjaan zalim dan semau gue, lebih jauh membebaskan rakyat dari ketertindasan.

      Hal ini bisa kita temukan di dalam Sejarah Nabi dan Sejarah Kekhalifahan Islam, belum pernah ada sebuah wilayah yang diperangi oleh tentara Islam kecuali didalamnya ada penguasa yang zalim dan semau gue. Di zaman Rasulullah SAW, Jihad lebih diarahkan kepada pembelaan diri dari serangan dan tipu muslihat kuffar. Begitu pula di zaman Khulafaurrasyidin. Khalifah pertama Abu Bakar Shiddiq, tatkala memberikan pesan kepada pasukan yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid dan terkenal dengan sebutan (jaisy usamah), beliau berwanti-wanti kepada mereka untuk tidak membunuh wanita, anak-anak, orang tua, para ahli ibadah dan bahkan pepohonan yang sedang berbuah.

      Kenyataan ini menunjukkan bahwa konsep jihad bukanlah untuk menjajah, merusak apalagi membabi buta, akan tetapi lebih dekat kepada makna pembebasan, pembelaan dan penyelamatan. Bukti lainnya adalah kenyataan bahwa wilayah yang telah dibebaskan oleh kaum muslimin itu mengalami kemajuan pesat, terutama nasib rakyatnya menjadi lebih baik dan mendapatkan haknya setelah sebelumnya dikekang kekuasaan zalim.

      Tidak berhenti sampai disitu, setelah berhasil membebaskan suatu wilayah, kaum muslimin juga meletakkan undang-undang dasar yang dapat mengatur wilayah yang telah dibebaskan tersebut. Bagi non muslim ditawarkan untuk masuk Islam, jika menerima, mereka akan disamakan dengan kaum muslimin dalam hak dan kewajibannya. Jika mereka belum bisa menerima ajakan Islam, maka mereka dikenakan Jizyah (pungutan denda) sebagai bentuk bakti dan ketaatan mereka terhadap negeri.

      Jizyah secara tidak langsung juga merupakan strategi untuk mengetahui bentuk ketaatan orang non muslim dan kerjasama mereka terhadap negara, karena Islam memandang bahwa bukan hanya kaum muslimin saja yang diharuskan membangun negara, melainkan penduduk non muslim juga ikut diajak untuk memerhatikan negara, bahkan mereka juga diberikan hak dan jaminan keamanan, baik jiwa, kehormatan, harta dan kebebasan menjalankan agamanya. semuanya dan sepenuhnya oleh dijamin oleh kaum muslimin.

      Belakangan ini ada sekelompok Orientalis yang berani melempar tuduhan bahwa Islam tersebar dengan cara paksaan, mereka telah keliru dan salah paham. Sebab dalam ajakan untuk memeluk Islam, al quran dalam pendekatannya kepada manusia tidak pernah memberikan konsep-konsep dogmatis tanpa menyentuh naluri akal manusia, akan tetapi ia menjelaskan hal-hal yang dapat diterima akal sehat, yaitu dengan menerangkan mana jalan yang tepat dan mana jalan yang salah dengan didukung bukti-bukti kekuasaan Allah SWT, kemudian akal manusia dibebaskan untuk membedakan dan memilih mana yang seharusnya dipilih, baru setelah itu mereka akan dimintai pertanggung jawaban terhadap pilihannya. Belum pernah terdengar di telinga kita ada agama yang memberikan penghormatan dan perhatian besar terhadap naluri akal manusia kecuali agama ini.

      Dengan konsep-konsep seperti inilah penduduk non muslim di Benua Afrika tertarik dan berbondong-bondong untuk memeluk Islam. Selain itu penyambutan baik dari penduduk Syam, Mesir dan Barbar disebelah utara yang mereka pada dasarnya mereka semua membenci kekuasaan byzantium saat itu, turut melancarkan penyebaran Islam di Afrika. setelah Jihad, ada juga faktor lain yang turut berperan dalam menyebarkan Islam di Afrika yaitu Ajaran Sufi.

      2. Ajaran Sufi (Shuufi).
      Dari sekian banyak ciri khas ajaran sufi yang tidak ekstrim adalah kelenturan, kemudahan, kebebasan dan toleransi bagi pemeluk agama lain. Ajaran sufi yang didasari cinta dan kasih sayang telah berhasil menarik pandangan penduduk Afrika untuk mengenal lebih jauh tentang Islam. Tabiat ajaran sufi yang demikian sangat sesuai dengan karakter penduduk Afrika.

      Apa itu Sufi? Asal-usulnya bermacam-macam. Ada yang mengatakan bahwa kata sufi diambil dari kata shuffah, yaitu nama dari salah satu dukun wanita di zaman jahiliah. Makna ini jauh dari kebenaran, karena munculnya istilah sufi setelah masuknya Islam di Jazirah Arab, bukan pada zaman jahiliah. Ada juga sebagian yang menganggap ia berasal dari kata Shuffah (ahlus shuffah) yaitu para sahabat yang tinggal di sebelah utara pelataran Masjid Nabawi di zaman rasul, mereka tinggal disana karena hidup miskin dan tidak mempunyai tempat tinggal serta keluarga. Makna ini juga belum bisa dibenarkan, karena -kata shuffah- jika dinisbatkan kepada pelakunya, ia akan menghasilkan kata shuffi, bukan shufi. Di antara ahli bahasa ada juga yang mengaitkan kata sufi dengan kata Shafa yang artinya kejernihan. Pendapat ini di satu sisi dapat diterima karena ada hubungannya dengan ajaran sufi yang menitik beratkan kejernihan hati, akan tetapi disisi lain pengambilan kata ini tidak sejalan dengan kaidah bahasa, karena kata shofa jika dinisbatkan kepada pelakunya akan berbunyi shoofi dan bukan shufi. pendapat terakhir -masih seperti yang diinformasikan oleh literatur arab- adalah berasal dari kata Shuf yaitu kain wol.

      Makna terakhir inilah yang penulis duga kuat lebih dekat kepada kebenaran. Karena kita bisa menemukan makna epistimologinya yang berkaitan dengan etimologi tersebut. Sejarahnya bermula dari sekelompok orang yang tidak memiliki kepentingan dan ketertarikan dengan hal duniawi, mereka tidak silau dengan kenikmatan dunia yang sementara. Sebagai gantinya mereka menyibukkan diri dengan kenikmatan akhirat. untuk mencapai maksudnya, mereka sangat berhati-hati terhadap sesuatu yang berhubungan dengan dunia, diantaranya tidak mau mengenakan pakaian yang bagus dan mewah seperti sutra dan beludru, akan tetapi cukup dengan memakai wol sebagai pakaian sehari-hari. Pakaian ini seolah-olah melambangkan kesederhanaan. Karena tidak tertarik dengan dunia, golongan ini lebih banyak memikirkan akhirat dan menitikberatkan kejernihan hati. Mereka berkembang dan kemudian dikenal dengan Kaum Sufi.

      Banyak ajaran sufi yang berperan dalam penyebaran Islam di Afrika, disini kita akan membicarakan tiga ajaran saja yang terbesar dan yang mempunyai penyebaran paling luas. yaitu Qadiriah, Tijaniah dan Sanusiah.

      Qadiriah.
      Didirikan pada abad 6 hijriah/12 masehi (1199-1100) oleh Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Qadiriah termasuk aliran sufi yang paling luas persebarannya di Afrika. Aliran ini mulai memasuki bagian barat Afrika pada sekitar abad 15 masehi. Mereka menjadikan daerah yang bernama Wullata (niger) sebagai pusat perkembangannya. Selang beberapa waktu mereka pindah ke daerah Tombokto (mali). Pada abad 18 masehi, Qadiriah telah berhasil membuat kebangkitan pada sektor agama, aktivitas dakwah mereka disepanjang gurun utara dan barat sudan berhasil memicu kebangkitan tersebut. Mereka juga memusatkan aktivitas dakwah di bagian barat Afrika, khususnya di daerah-daerah sekitar Senegal dan aliran Sungai Nejer.

      Selain itu mereka juga mengutus para penduduk Afrika yang masuk Islam ke sekolah-sekolah di kota Qayrawan (Maroko), Universitas Zaytunah dan al-Azhar untuk menyebarkan Islam sekembalinya dari sana. Dalam dakwah mereka mengutamakan nasehat dan pengaruh guru terhadap muridnya.

      Tijaniah
      Tijaniah juga merupakan salah satu dari aliran sufi yang berperan dalam penyebaran Islam di Afrika. Didirikan oleh Syaikh Abul Abbas Ahmad bin Muhammad bin Salim at- Tijani salah seorang ulama dari jazair. Beliau menamatkan studinya di Mekah, Madinah dan Mesir. Para pengikut aliran ini menyebut dirinya dengan "Ahbaab". mereka mempunyai doa dan wirid-wirid tersendiri.

      Kebanyakan dari pengikut Tijaniah tidak menyukai permainan dalam dunia politik, meskipun pernah ada usaha dari Abdul Qadir al-Jazairi untuk memanfaatkan gerakan mereka kedalam dunia politik. Ajaran tijaniah tersebar di Mesir, bebrapa negara arab dan asia, akan tetapi penyebaran mereka yang paling luas adalah di Sudan.

      Sanusiah.
      Dicetuskan pada tahun 1837 masehi oleh Siidi Muhammad Ali as-Sanusi, seorang pakar fikih asal Jazair. Ajarannya banyak berbicara tentang reformasi agama dan pemurnian akidah. Pemikiran mereka banyak dipengaruhi ajaran wahabi, hal ini terlihat jelas dari pengharaman mereka terhadap ziarah kubur, minum kopi dan merokok serta ajakan mereka untuk kembali kepada quran dan sunnah serta pemahaman salafus shalih. Pengikut Sanusiah menolak mentah-mentah segala bentuk kebijakan yang dikeluarkan oleh barat, khususnya Eropa.

      Menurut catatan sejarah, aliran sanusiah banyak tersebar di sebelah utara Benua Afrika, pusatnya di daerah gurun ber-oase yang bernama Jaghboub di libya, di tempat itulah ribuan pengikut aliran sanusiah hidup dan belajar hingga kemudian mereka menyebar untuk berdakwah ke berbagai negara di Afrika.

      3. Pedagang.
      Ahli sejarah sepakat bahwa para pedagang termasuk dari mereka yang mempunyai andil besar dalam penyebaran Islam di Afrika maupun di belahan dunia lainnya. Hal ini disebabkan karena selain berdagang, mereka juga berdakwah. Keberhasilan yang mereka capai jika kita selidiki kembali karena didukung tiga hal.

      Pertama, para pedagang dalam menyebarkan Islam menggunakan konsep Plur (peace love unity and respect), yaitu penawaran Islam dengan kelembutan dan kasih sayang, serta menjadikan akhlak terpuji sebagai alat penarik perhatian masyarakat yang mengadakan kontrak perdagangan dengan mereka. Dalam berinteraksi dagang, mereka menggunakan kejujuran, sikap tepat janji, perkataan lemah lembut dan berkomitmen tinggi. Hal inilah yang membuat orang-orang tertarik untuk lebih mengenal Islam setelah menilai tingkah laku mereka itu.

      Kedua, dalam kehidupan bermasyarakat, para pedagang terjun langsung kelapangan kemudian bercampur baur dengan penduduk setempat. Selain menjajakan dagangannya, mereka juga bersahabat, membantu dan bahkan menikahi penduduk setempat.

      Ketiga, salah satu dari kewajiban pedagang adalah mencari akses jaringan dan pasar dagang seluas mungkin, kenyataan ini telah membawa mereka untuk tidak puas tinggal berdiam di suatu tempat, melainkan selalu mencari wilayah dan tempat-tempat baru untuk meluaskan jaringan dagangnya. Mereka melewati samudra, padang pasir dan singgah di berbagai macam negeri. Hal inilah yang membantu tersebarnya Islam dalam waktu yang relatif singkat di Benua Afrika.

      4. Para Muballigh dan Ulama.
      Selain Jihad, Ajaran Sufi dan Perdagangan, para muballigh dan ulama juga tidak kalah saing dalam menyebarkan Islam di Afrika. Bahkan menurut informasi yang diceritakan buku-buku sejarah, bahwa munculnya ulama-ulama dan para muballigh besar Islam berasal dari Benua Afrika. Jika Islam masuk dengan cara jihad kemudian menawarkan perubahan tatanan masyarakat, maka para ulama dan muballigh-lah yang mengaplikasikanya di dalam tubuh masyarakat itu. Selain itu mereka juga mengajarkan para penduduk untuk memahami tantangan hidup dan mencarikan pemecahannya. Banyak contohnya, Diantaranya Hasan bin Nu'man, seorang gubernur sekaligus ulama yang terkenal menerapkan persamaan golongan antara Bangsa Arab dengan Barbar serta meletakkan dasar-dasar manajemen perkantoran dsb.

      Kerajaan Adarisah dan Murabithin di Maroko merupakan dua kerjaan yang mempunyai jasa besar dalam menyiapkan serta menyebarkan ulama dan muballigh, dalam kata-katanya, Syaikh Abdullah bin Yasin pendiri Kerajaan Murabithin meletakkan dasar dasar perjuangan mereka " Pergilah berdakwah dengan berkah Allah! berilah kaum kalian peringatan akan azab Allah! apabila mereka bertaubat maka biarkanlah, akan tetapi apabila mereka berpaling dan tetap pada kezaliman-nya maka kami akan memerangi mereka hingga allah SWT memutuskan nasib diantara kita!". kalimat beliau inilah yang dijadikan pegangan para muballigh dari kerajaan Murabithin.

      Selain berdakwah, para ulama dan muballigh juga membangun masjid dan madrasah-madrasah di berbagai tempat bagi para mu'allaf, hal demikianlah yang membantu Islam semakin tersebar dan dipelajari di Afrika.

      5. Kesetaraan Golongan
      Dari keistimewaan yang tidak dimiliki agama-agama lain selain Islam adalah kesesuaiannya dengan fitrah manusia, artinya ajaran, perintah dan larangan yang ada dalam Islam itu dapat diterima manusia, baik secara naluri maupun akal, teori maupun praktek. Salah satunya adalah konsep kesetaraan golongan diantara manusia. konsep ini menjelaskan bahwasanya semua manusia pada hakikatnya sama dihadapan Allah SWT, tidak ada perbedaan antara si hitam dengan si putih, si kaya dengan si miskin, si kuat dan si lemah kecuali dengan taqwa. Tolak ukur inilah yang membedakan mereka di hadapan Allah SWT.

      Kenyataan sosial yang dihadapi penduduk Afrika pra Islam adalah budaya pengkastaan manusia, pembedaan antara golongan dan ras serta perbudakan. Saat itu si kaya dianggap lebih mulia dari pada si miskin, begitu pulang mereka yang mempunyai keturunan raja-raja memandang picik masyarakat kecil. Penghinaan dan ejekan pun menjadi kebiasaan yang tidak dipertanyakan lagi disana. Seakan akan ada jurang pemisah antara golongan ras dan etnis. Tentu saja yang menjadi bual-bualan hinaan dan ejekan adalah mereka yang ada di golongan menengah kebawah. Manusia manapun dan kapanpun yang menghadapi kenyataan sedemikian dapat dipastikan -secara naluri dan akal- akan menolak lalu memberontak, menuntut penghormatan dan persamaan.

      Di tengah-tengah keadaan semacam inilah Islam datang menawarkan konsep kesetaraan golongan. Sesungguhnya konsep ini secara tidak langsung berbicara tentang pentingnya menjaga kehormatan dan kemuliaan manusia diantara manusia. Mengapa demikian? Karena ketika manusia dianggap sama di hadapan Allah SWT maka tidak layak bagi mereka untuk saling menyombongkan diri satu dengan lainnya, karena mereka sama maka dilarang untuk saling buruk sangka, karena persamaan juga mereka dilarang saling hina dan caci maki, apalagi saling menganjing-babikan. Belum tentu penghina lebih mulia dengan yang dihinanya, belum tentu juga hinaan yang dilemparkannya tepat, bisa jadi yang dihina lebih mulia dari penghina dan hinaannya lebih dekat untuk menggambarkan dirinya.

      Dengan pola fikir semacam ini Islam menghapus pengkastaan dan penggolongan. Hasilnya? seperti yang kita duga kuat. Berbondong-bondong penduduk Afrika tertarik untuk memeluk Islam. Selain itu kegagalan misionaris juga turut mendukung masuknya Islam di Afrika, mereka menganggap bahwa ajaran yang ditawarkan misionaris hanya untuk golongan menengah keatas.

      III. KESIMPULAN

      Sebelum Islam masuk, kenyataan yang dihadapi penduduk Afrika adalah ketertindasan oleh kezaliman para penguasa, kebodohan, pemberontakan jiwa, keingin-tahuan dsb. Dalam keadaan seperti inilah Islam datang dengan konsep-konsepnya yang dapat diterima mereka sepenuhnya, dari mulai pembebasan wilayah yang dikuasai oleh raja zalim, ajaran sufi yang menyentuh hati mereka dengan kasih sayang, para pedagang yang berinteraksi langsung dengan mereka sekaligus menjadi contoh dalam pergaulan, para ulama dan muballigh yang menjelaskan serta membimbing mereka untuk lebih mengenal Islam serta penghormatan Islam terhadap kemuliaan manusia.

      Semua hal tersebut berhasil memainkan perangnnya. ia membuat sebagian besar penduduk Afrika yang sebelumnya hidup dalam lumpur sesat, kegelapan ilmu, ke bobrokan akhlak, kehimpitan sosial serta kerancuan aturan, menjadi sebaliknya.

      Usai acara Aqiqah untuk cucunya Ir. H. Abdul Kohar di wisma NU-Khartoum Sudan, penulis dan kawan-kawan NU sempat ngobrol-ngobrol santai dengan beliau. Kebetulan kami baru selesai ujian 1 madah, yaitu Intisyar Islam (di Afrika). Sooo, kita ngobrol masalah itu sedikit, ternyata Pak Kohar yang menjabat sebagai pensiuanan pertamina dan senior salah satu perusahaan minyak di sini tertarik dan mesen tulisan tentang penyebaran Islam di Afrika. Sekalipun ditulisnya biz ujian, tapi kayaknya belum basi. Khartoum, 11 Agustus 2008.

      more
    • MENGENALI PROFIL DIRI SENDIRI
      22 Juli 2008, Kita seringkali mengalami kehausan spiritual. Wajah kebutuhan akan spiritual sejati semakin berdarah-darah. Berbagai pertanyaan seputar batiniah kerap kali belum terjawab oleh berbagai tulisan ilmiah ataupun konsep sementara pakar. Sementara itu sebagian orang menggunakan logikanya akal untuk mengisi kekosongan otak yang seharusnya diisi oleh tuntunan agama. Warna asli hikmah yang berada di balik semua kejadian di muka bumi ini serasa semakin memburam. Munculnya ajaran-ajaran yang tidak sesuai berhasil menyuapi sebagian tenggorokan para pemikir keras.Sesuatu yang digali dari sumber agama dan tasawuf terkesan lawas dan kerap kali ditemukan telah kadaluarsa di belakang pintu museum akademik. Banyak hal yang belum diterjemahkan dari kandungan ajaran islam, baik oleh cendekiawan muslim sendiri maupun cendekiawan barat lain. Kekosongan seakan-akan menjadi jawaban umum para pakar. Penulis akan mencoba menggambarkan secara ringkas tentang seputar psikologi spiritual manusia yang dilandasi konteks ke-fitrahan manusia.

      Menuju kedewasaan spiritual.
      Para kosmolog wajahnya pernah dicorat-coret dengan pertanyaan : Bgaimana, kapan dan mengapa segala sesuatu di alam raya ini bermula? ada yang menduga bahwa jagat raya muncul sekitar 10 atau 20 miliar tahun lalu dalam kondisi yang tidak terbatas apapun. Kemudian semuanya berputar putar dengan kecepatan tinggi lalu bertabrakan satu sama lain dan lama-lama menyatu dengan proses yang sempurna. Tidak ada istilah salah naro, belum diminyakin, macet atau kabel yang melintir. Disela-sela dugaan ini munculah pola pemikiran dan teori yang berupaya menawarkan penjelasan untuk kita.

      Diluar ruang dan waktu zahiriah, ada makna yang belum dapat dijelaskan oleh sains kontemporer. Ia hanya dapat difahami dengan mengikuti peta yang telah dikoordinatkan agama. Artinya ada makna tersirat dibalik penciptaan seluruh alam raya ini yang harus kita temukan. Satu-satunya jalan untuk mencapainya yaitu dengan menapaki apa yang diarahkan oleh peta agama adalah dengan kepasrahan, penyucian bathin, iman yang kuat dan kemauan yang keras.

      Jiwa akan menemukan ketenangannya manakala memulai perjalanan panjang ini. Anggaplah kita ini sebagai petualang spiritual. Para pencari spiritual mengomunikasikan meditasi dengan kesadaran tanpa menyerempet pemikiran, sehingga ia dapat melampaui kesadaran fisik. Apabila seluruh proses mental dihentikan, maka akan muncul kondisi baru yang berisi kesadaran murni, memasuki zona yang belum bisa dijelaskan dengan pemikiran ilmiah. Kondisi kenikmatan yang murni. Jika kita dapat memahami dunia natural, kita akan diduga kuat dapa memahami juga dunia supranatural dengan menangkap segala kejadian yang sangat luas maknanya.

      Kejadian di dunia ini merupakan sejarah wajib bagi seseorang. Tatkala sang pengelana telah menemukan profil dirinya, ia akan menjadikan sejarahnya itu penuh dengan kebaikan, bermanfaat, matang, sebagai fasilitas pengantar ke sejarah kematian yang pasti. mMaka perjalanan di dunia ini tak lebih bagaikan membaca, menerjemahkan, mengaplikasikan peta yang telah disediakan agama.

      Dimanapun sang pengelana berada, dalam kebudayaan, tempat atau masyarakat, ia tentu akan menemukan beragam corak, tekstur desain dan sebagainya. Perjalanan hanya akan bermakna jika mempunyai tujuan yang jelas dan benar. Peta berfungsi memberikan informasi dan arah mana tujuan, sedangkan apa tujuan tempatnya berada di dalam sisi bathiniah kita. Dari sini sang pengelana dituntut untuk memahami dan mengaplikasikan setidaknya dua hal; cemat membaca peta dan cerdas menyusun tujuan, agar perjalanan tidak tersesat, salah alamat, merangkak-rangkak dalam gelap, sia-sia dan penuh bahaya.

      Semakin dewasa dan tua, cakrawala semakin terbuka lebar, kebijaksanaan meningkat, keterjagaan batiniah menguat, kematian pun juga mendekat. Di saat seperti ini kita akan semakin mengingat masa muda dan tahun-tahun awal kehidupan, berusaha menjamah akar dari satu ke lain-nya. Kesan, pesan, emosi, bayangan yang membekas semakin nyata di sore hari. dengan menelusuri sejarah wajib, kita akan lebih mudah untuk menyimpulkan bahwa disana ada faktor-faktor yang mengatur kehidupan yang belum dikenal dan tak tercium oleh hukum alam pasti.

      Mengenali profil diri.
      Manusia itu diciptakan berpotensi, ada yang telah menemukan potensinya, ada pula yang belum, sejatinya manusia yang belum mengenal potensinya aka dipaksa untuk terus bemain dalam berproses; proses pematangan jati diri untuk menuju insan kamil. Dari sinilah diketahui pentingnya menemu-kenalkan potensi diri dengan tantangan dan tuntutan. Lebih jauh dalam rangka menyukseskan proyek besar-besaran; keseimbangan dalam kematangan, atau dapat diterjemahkan lebih jauh dengan keseimbangan antara emosi spiritual dan emosi intelektual. Ini merupakan hal yang harus disekarangi, tidak dapat dibesok-pagikan lagi.

      Komunikasi antara potensi diri dengan tuntutan, keseimbangan antara emosi spiritual dengan emosi intelektual adalah keniscayaan yang diharapkan. Hal ini mau tidak mau dapat menjadi kewajiban seorang muslim yang sadar, tentunya kejadian dan prosesnya haruslah dipolakan dalam bingkai tuntunan ilahi yang benar, bukan terputar-putar dalam jebakan lumpur setan yang selalu menganjing-babikan agama.

      Muslim dalam konteks keislamannya diwajibkan untuk berproses menuju konsep insan kamil, ia akan menemukan kekamilanya manakala dapat menyeimbangkan antara emosi spiritual dengan emosi intelektual serta lingkungannya. Marilah kita memulai perjalanan ini lewat jalur agama sebagai mainset dasarnya. sesungguhnya islam sangat berperan aktif dalam proses penjati-dirian.

      Islam mengajarkan untuk berbuat baik; kepada dirinya dan orang lain. Ini mengasumsikan pergaulan yang beradab dan tinggi, pergaulan yang dibangun dengan konstruksi cinta, kasih sayang, tolong menolang dan saling menghormati. Lebih jauh mengajarkan manusia tentang kemanusiaanya. Manusia yang tau kemanusiaanya diduga kuat telah mengenal profil dirinya. Pengenal-sadaran profil diri adalah langkah awal peniscayaan sebuah proses. Tanpa pengenalan semacam ini manusia akan menemukan wajahnya memucat. Seseorang yang berpijak pada tumpuan tepat dan mainset yang benar, dia dipastikan akan berjalan di dalam proses yang benar pula. Sebaliknya, mereka yang salah dari awal, akan terpaksa menghirup kopi pahitnya sendiri.

      Agar lebih mudah kita sederhanakan dengan pertanyaan; siapa? mengapa? dan untuk apa? seorang muslim dituntut untuk menjawab pertanyaan ini. Adalah keniscayaan dari air mani yang dim uncratkan dalam rahim, berasal dari kehinaan yang benar-benar berada dibawah hina, terlahir dengan bermodal pendengaran, penglihatan, akal, hati dan perasaan. Modal dasar ini jangan sampai disalahgunakan. Sangat rugi manakala manusia tidak dapat menggunakan modal ini, bahkan dihabiskan sia-sia. Dari sinilah manusia akan menyadari kelemahannya, siapa dia? dia adalah mahluk Allah yang benar benar lemah dan hina yang tidaklah punya arti, jadi apa yang menbuatnya selama ini sombong dan dengki?

      Selanjutnya dia akan bertanya; mengapa diciptakan? penciptaan manusia dalam Al-Quran adalah untuk meramaikan dan mengisi kehampaan bumi serta menjadi pimpinan makhluk hidup disana. Dari sini diteriakkan keras pada ketulian telinga manusia bahwa ia berkewajiban untuk membangun, meramaikan, menjaga, merawat alam raya, bukan justru membabi-buta dalam perusakan, penghancuran, penyalahgunaan fungsi alam. Untuk apa diciptakan? Al-Quran menginformasikan jawbanya; manusia dan seluruh makhluk hidup diciptakan untuk menyembah Allah SWT, dalam Al-Quran difirmankan “Dan tidaklah manusia dan jin itu aku ciptakan kecuali untuk menyembahku”.

      Sekilas tercium bau-bau tipu disana, tetapi itu akan hilang manakala definisi makna Ibadah adalah istilah yang mencakup segala sesuatu yang membuat Allah SWT ridha, baik perbuatan, ucapan maupun lainnya. Manusia yang menjejalkan nasi ditenggorokannya adalah terhitung ibadah manakala hal itu membuatnya semangat untuk berbuat baik, kerjaan, menjual, menulis, belajar, berbicara semuanya tergolong ibadah ketika membuat Allah SWT ridha, inilah luasnya makna ibadah.

      Inilah perjalanan menuju insan kamil. Seorang muslim dituntut bermain adil dan sesuai aturan. Akhirnya muslim yang mengerti siapa dia, mengapa dan untuk apa diciptakan, menemukan, menyeimbangkan, mengenali, bersikap.

      more

    Video

    Aturan Pakai :

    Kajian Spiritual adalah tulisan-tulisan lepas Miftahuddin Ahimy yang diperbaharui dari situs Kajian Spiritual Lama. Anda boleh menyalin dengan menyebutkan sumbernya. Klik disini untuk sharing.