Tulisan Terbaru

.
  • REFERENDUM DI SUDAN SELATAN DAN SEPAK BOLA

    25 Ramadhan 1430 H. Tiba-tiba kita dikagetkan dengan pernyataan Bagan Amoun Pimpinan Gerakan Rakyat Pembebasan Sudan atau yang kita istilahkan selanjutnya dengan GRAPS di surat kabar yang mengatakan "Komisi Referendum sekarang mengalami kelumpuhan total karena gagal menentukan Pimpinannya. Begitu pula Partai Kongres Nasional yang sejak penandatanganan Kesepakatan Damai tahun 2005 tidak berhasil untuk membuktikan Pemerataan bagi Rakyat Sudan khususnya Penduduk Selatan, -masih menurutnya- Sehingga saya yakin apabila dalam kurun waktu dua minggu komisi tidak dapat menyelasaikan permasalahan, maka Referendum akan gagal".

    Referendum bagi Penduduk Selatan tahun 2011 itu ditetapkan pada Kesepakatan Damai Nifasha antara GRAPS dengan Partai Kongres Nasional pimpinan Basyir sebagai partai pemenang pemilu. Ya, sesungguhnya Partai Kongres Nssional tidak lain adalah pemerintah Sudan sendiri yang berusaha untuk mencari jalan menuju perdamaian dari perang saudara yang pecah selama puluhan tahun di Sudan.

    Pembaca, Kesepakatan Nifasha pada intinya menetapkan tiga hal pokok menyangkut nasib Sudan yaitu Referendum bagi Sudan Selatan tahun 2011, Praktek Demokrasi dalam keberagaman dan mencari solusi bersama dalam permasalahan keamanan dan ekonomi. Ketiga pokok inilah yang berhasil melahirkan perdamaian setelah puluhan tahun pecah perang.

    Mengenai Referendum, Pemerintah Sudan pada masa tenggang menuju jadwal Referendum (2005-2011) dibebankan untuk membentuk Komisi sebagai Pelaksana Referendum tersebut, yaitu komisi yang terdiri dari Sembilan orang Pimpinan, lima dari selatan dan sisanya dari utara.

    Meskipun tugasnya hanya terbatas dalam membentuk komisi saja, adalah menjadi tanggung jawab Pemerintah agar Referendum berjalanan sukses. Hal lain komitmen dan keseriusan Pemerintah. Sehingga apabila pelaksanaan Referendum bagi rakyat selatan itu berjalan baik dan tepat pada waktunya, maka pemerintah telah berhasil, dan sebaliknya.

    Sehingga kita tidak heran apabila sering menyimak Presiden Basyir baik pada Situs Resmi Pemerintah maupun di berbagai kesempatan menekankan bahwa Referendum akan terlaksana tepat pada waktunya. Dan agar komitmen Nifasha tetap terjaga baik.

    Nah, dalam keadaan genting inilah kita dikagetkan. Mengapa GRAPS yang sejak dulu berusaha memperjuangkan Referendum bagi Rakyat Selatan, kini pada masa-masa menuju kesana justru berbalik sikap? Mengapa mereka berusaha untuk menghalangi kinerja Komisi Referendum dengan membuat skenario agar Komisi kehilangan power? Waktu-waktu dekat Referendum semestinya digunakan untuk men-support Komisi, mengapa malah balik menyerang? Apakah tidak membahayakan reputasi Pemerintah di mata Asing jika Referendum gagal atau tertunda?

    Nampaknya ada skenario panjang dan seru yang ingin menggoyah kepeimpinan Sudan dan persatuannya. Khususnya setelah "lengsernya" John Garank Pimpinan Gerakan Pemberontak Bersenjata dari selatan. Betapa tidak, setelah penandatanganan Nifasha -yang berarti jawaban dari tuntutan GRAPS selama bertahun-tahun- mereka begitu bersemangat untuk mengangkat berbagai permasalahan Selatan baik seperti keamanan, kemiskinan sampai masalah keadilan. Memang ini cukup baik untuk mengoreksi kinerja pemerintah yang sedang berjalan. Namun disisi lain? Sudan dipandang oleh badan-badan internasional sebagai Negara yang bermasalah.

    Sehingga dengan Kesepakatan Nifasha seolah-olah ada yang berkata " Hei, lihat saja pemerintah yang telah gagal menepati kesepakatan, belum lagi permasalahan di Selatan yang membuktikan kebobrokan mereka, jadi keamanan dan hak-hak Penduduk Sudan tidak terjamin lagi".

    Betapapun Kesepakatan Damai itu memberikan angin segar bagi mereka yang berusaha agar Selatan terpisah, kesepakatan telah berhasil meredam Perang Saudara yang pecah sejak tahun 1955. Dengan ditetapkannya Referendum tahun 2011 bagi penduduk Selatan, sekurang-kurangnya Pemerintahan Basyir telah mampu mewujudkan beberapa hal penting :

    1. Meredam Perang Saudara. Sudan Negara yang kita cintai ini sejak kemerdekaannya mengalami bermacam perang saudara dimana menyebabkan kerugian luar biasa baik nyawa ataupun kekayaan Negara. Berbagai usaha diplomasi dilakukan untuk menyetop perang tersebut. Diantaranya kesepakatan di Addis Ababa tahun 1972 yang diklaim dapat mendinginkan suasana. Namun pada tahun 1983 cerita perang kembali memuncak setelah GRAPS dengan menolak undang-undang yang berasaskan Syariah dan mengumumkan pemberontakan kepada Pemerintah.
    2. Memberlakukan Undang-undang Sudan kepada seluruh komponen dan golongan.
    3. Menyelesaikan permasalahan selatan yang tidak pernah kelar selama puluhan tahun.
    4. Dengan menjawab tuntutan Selatan, Pemerintah Sudan telah menjamin keamanan dan hak-hak Rakyat Sudan.
    5. Praktek Demokrasi bagi Penduduk Selatan. Memilih bersatu atau berpisah adalah hak mereka.

    Penulis teringat akan sepakbola, namun Kita tidak berbicara tentang pertandingan antara Spanyol dan Belanda. Sudah bukan rahasia lagi bahwa satu dari taktik dalam Sepakbola adalah dengan melakukan berbagai macam "aksi kosong" pada setiap kesempatan. Biasanya dilakukan oleh Pemain Tim yang mempunyai Gol lebih banyak dari lawanya. Hal ini bertujuan untuk memanfaatkan dan membuang waktu yang tersisa hingga pertandingan berakhir. Trik semacam ini akrabnya dikenal penonton dengan istilah "ngulur-ngulur waktu". Keseblasan "Marikh" dan "Hilal" di Sudan pernah menggunakan trik semacam ini kabarnya.

    Trik ini mengingatkan kita akan Bagan Amon Pimpinan GRAPS pada pernyataannya tadi dan begutu pula orang-orang yang senada dengannya. Betapa tidak? Waktu sempit menuju Referendum mengapa digunakan untuk mengkritik Komisi? Waktu sempit menuju Referendum mengapa digunakan untuk menjegal langkah Komisi? Mengapa pula membuang "bola" buka pada tempatnya?

    Akhirnya kita berharap semoga saja semuanya berjalan dengan baik, karena segala kemungkinan untuk menuju kebaikan masih sangat terbuka lebar. Apalagi Basyir telah mengumpulkan semua kekuatan politik di Sudan untuk diajak bermusyawarah.

    (Pernah dimuat pada TAF Edisi Lebaran 1431 H)

    more
  • NOTA HUSNI MUBAROK DAN AIR SUNGAI NILE YANG BANJIR
    Kemarin tepatnya tanggal 20 Agustus 2010 Presiden Republik Mesir Husni Mubarok mengeluarkan nota yang isinya menyangkut permasalahan pengelolaan Air Sungai Nile Pasca Kesepakatan "Ettenbe" di Uganda yang didatangani oleh empat dari tujuh Negara-negara Sumber Nile yaitu; Etihopia, Uganda, Tanzania dan Rwanda. Kesepakan itu berbicara tentang pengeloalaan air, batas dan isi yang dikandung sungai Nile. Memang telah ada kesepakatan tahun 1929 namun hanya antara Mesir dan Inggris saja.

    Nile selain berperan sebagai Sumber Daya Alam melimpah di timur tengah ia juga tidak lepas dari permasalahan-permasalahan, mengingat adanya Negara Sumber Nile yang merasa dirugikan pada haknya, maka kesepakatan itu perlu di tinjau kembali. Begitulah kurang lebih ceritanya.

    Nota Pak Husni tadi diterjemahkan oleh DR. Nashruddin Allam Menteri Pengairan Sumber daya Air Mesir melalui Dialog dengan Pemerintah Sudan salah satu dari Negara-negara Sungai Nile yang sama-sama tidak "diajak" dalam kesepakatan Ettenbe. Yang jelas Mesir dan Sudan akan menolak kesepakatan. Namun belum ditentukan kapan waktu dan dimana tempat dialognya. Untuk DR. Kamal Ali harus siap-siap untuk ikut rapat.

    Yang tadi Cerita Politik. Marilah kita menuju Sungai Nile. Kurang lebih dua minggu lalu Nile Banjir Bandang. Sejak tahun 2006 Nile belum pernah banjir seperti sekarang. Biasanya banjir paling-paling mencapai satu meter saja diatas batas normal Namun kali ini dapat mencapai 3 meter atau lebih, karena air sudah mencapai pembatas Nile di depan Istana Negara yang tingginya ±5 meter. Pepohonan Rimbun diantara Jembatan Futihab lenyap ditelan air. Bahkan sawah-sawah disamping Akademi Militer Omdurman habis terendam air. Yang jelas banjirnya tidak seperti biasa.

    Timbul pertanyaan, ini peringatan dari Sungai Nile? Atau memang gejala Alam biasa?

    more
  • PAIJAN DAN BOS KETIK
    Ceritanya Paijan berkunjung ke kawan lamanya di Asrama. Ada paper yang harus ia print out. Sebutlah Liyan Fuadi teman seperjuangannya yang sudah menjadi Bos Ketik dan Percetakan terbesar di Asrama Universitas Afrika.

    Paijan : Yan, komputer jalan ga? Mau ngeprint nih!
    Liyan : Jalan kok, langsung nyalain aja!
    Paijan : Udah sampe mana dia, katanya jalan?

    more
  • MEMOIRS
    “Ya Allah, kembalikan Hari-hari dan ingatkan Cerita-cerita yang terlupa”

    Jakarta 2007.

    Menurut rencana, komisi fatwa MUI pusat akan mengadakan sidang istimewa. Dalam sepekan akhir ini mereka kerap kali disibukkan dengan berbagai prolematika baru. Sidang kali ini rupanya untuk membahas beberapa persoalan penting itu. Menteri Agama Dr. Ahmad Haikal akan direncanakan hadir untuk membuka sekaligus memberikan sambutan pada acara tersebut, beliau adalah salah satu menteri yang baru dilantik bersama lima menteri lainya pada beberapa bulan lalu. Belasan tokoh ulama dari negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei juga di undang untuk hadir memberikan partisipasi.

    Sesuai rencana, acara besar ini akan dimulai tepat pada pukul 09.00 WIB
    Pagi itu suasananya terasa sangat sejuk, matahari tersenyum-senyum dibalik awan tipis. Tidak terlihat di wajahnya duka yang membebaninya semalam. Dari pucuk pohon rindang ada Burung-burung gereja saling bersaut siul, saling mengingatkan cerita-cerita mereka yang sudah terlupa. Kicauan burung akan terdengar semakin indah manakala ia sedang merasakan kerinduan yang sangat. Pagi itu Udara Kota Jakarta bertiup sepoi-sepoi membawa kabar baik. Pagi yang sangat indah untuk seukuran ibukota, tidak dinikmati oleh mereka yang masih terlelap dalam selimutnya.

    Acara berjalan lancar, para tamu undangan berjejal memenuhi kursi-kursi yang di sediakan. Pada sambutannya ”Pak Ekal” panggilan akrab Dr. Ahmad Haikal selaku menteri agama menekankan perlunya sikap bijaksana dalam menghadapi berbagai masalah yang timbul. Pak Ekal memang sosok yang menjadi salah satu figur yang paling disegani di tempat itu, sekitar 20 tahun silam, beliau berhasil membawa pulang ijazah Doktoralnya dengan predikat cum laude di Umdurman Islamic University, Sudan, dalam spesialisasi bidang Tafsir. Meskipun berumur 47 tahun, namun beliau belum menikah sampai sekarang.

    Hari itu, seusai memberikan sambutannya Pak Ekal tidak terlihat seperti biasanya, beliau sedikit gelisah. Duduk di barisan terdepan para undangan tidak membuat pria itu tenang, Beliau terihat bergerak-gelisah di atas kursinya, seperti sedang mencari hal yang hilang. Pandangannya tertuju ke segala arah di dalam ruangan. Menelusuri setiap jengkal dinding dan lantai. Mencari sesuatu diantara wajah-wajah khusuk. Akhirnya pandangan beliau terhenti ke tempat ibu-ibu, pandangannya terhenti pada seorang perempuan setengah baya yang berbusana anggun. Perempuan itu memakai kerudung putih bercorak bunga krisan merah muda, ia memiliki alis tebal yang biasanya menandakan kesuburan, dan berbibir tipis seperti belahan buah delima masak yang kerap kali menunjukkan kelembutan, seolah-olah memancarkan wibawa yang akan di berikan kepada siapa saja yang di cintainya.

    Merasa diperhatikan, perempuan itu menunduk, sesekali dengan hati malunya menyambut pandangan Pak Ekal. Sosok yang kira-kira berusia 40 tahun itu ternyata salah seorang utusan MUI cabang solo, jateng, ia juga ketua dalam organisasi Nahdlatun Nisaa’, sebuah organisasi kemasyarakatan di sana yang bergerak di bidang keagamaan dan pendidikan. Meskipun berumur, tetapi ia masih terlihat sangat anggun.
    Pandangan Pak Ekal tak mau lepas darinya, seakan menteri agama itu lupa siapa dirinya dan sedang berada dimana. Seperti pengantin pria yang lupa nama istrinya disaat pelaminan. Ekal mengingat sesuatu dalam pandangannya.

    Ternyata sang Ibu juga menyambut pandangan pak Ekal. Dari jauh mereka saling memandang. Pandangannya begitu tajam bak seorang tentara yang menunggu musuh dari balik jerami. Disana ada garis lurus khayal dalam lamun pandangan empat mata tua dan berkacamata, mereka mulai lupa segalanya. Antara Menteri Agama di barisan terdepan dengan Ketua Nahdlatun Nisaa’ sebelah kiri ruangan.

    Sepertinya dahulu mereka sudah saling mengenal akrab di masa silam, diantara pandangan keduanya ada rasa ingin mengulang kembali masa-masa muda, masa dimana darah masih berdesir kuat dalam nadi, darah yang berperasaan mau menang sendiri dan begitu sombong. Ya, dari dalam ruangan ternyata mereka mencoba untuk mengingat kembali hari-hari remajanya yang terlupakan, menyusun kembali serakan-serakan terkenang di Khartoum City dan Umdurman. Menyambut salam mentari pagi dengan setumpuk buku di genggaman, akan pergi berangkat kuliah. Menelusuri hari-hari muda mereka yang begitu meletihkan dan berkeringat, hari-hari yang tidak bisa di lukiskan kecuali dengan senyuman dalam lamunan. Dalam pandangan dua insan telah tenggelam, seakan tidak mau untuk terselamatkan lagi.

    Terlihat Pak Ekal mengeluarkan air mata, Kemudian disusul si Ibu. Jelas keduanya memiliki jutaan cerita yang ingin dilantunkan dan disimak, cerita muda mereka di atas Jembatan Futihab, cerita dua mahasiswa yang menyebabkan senyuman sebelum tidur malam, antara dua remaja dalam suasana keagamaan, kesopanan, ilmu dan etika……. puluhan tahun silam….. di Sudan.

    Sudan 1983.

    Banyak mereka yang beranggapan bahwa Sudan dengan Umdurman dan Universitas Afrikanya adalah Markaz Tsaqofah Arobiah, Pusat kebudayaan Arab. dimana Sudan telah menyihir para remaja islam dari seluruh penjuru dunia untuk menjadikan dirinya sebagai tempat pendidikan dan pengalaman, tak aneh jika ribuan pelajar datang ke negeri ini untuk melanjutkan perjalanan ilmiah mereka. Negeri ini begitu indah, meskipun panas, sang mentari pagi selalu setia menyambut mereka yang hendak pergi kuliah, memberikan semangat baru, sore harinya ia akan pamit di ujung sungai Nil membawa beban siang. Mengurangi keletihan belajar. Dimalam hari pun purnama akan muncul bukan karena peraturan alam, melainkan karena kerinduannya pada puncak Jabal Aulia dan lembah di sekitar sungai nil.

    Sore itu seharusnya suasana dijalan Syambat masih di penuhi mobil- mobil mereka yang pulang kerja, entah mengapa, sore tidak seperti biasanya. Jalan menjadi lenggang, hanya dilalui beberapa bus kota dan mobil kuno, terkadang kereta himar yang membawa garam dan rumput. Panas matahari masih tersisa di udara.
    Ahmad Haikal muda masih terlelap di kursi paling belakang bus yang membawanya ke lembah jalan Wadi nile, ia nampak sangat letih. Di pundaknya ada tas sederhana yang di penuhi berbagai macam kebutuhan Mukhoyyam, ada kasur tipis, selimut, hafadhah kecil, lampu petromak, korek api, makanan ringan dan beberapa buku catatan disertai tiga kitab berbahasa arab. Sore itu Haikal berencana menyendiri, sudah menjadi kebiasaan-nya semenjak tiga tahun lalu untuk menghabiskan malam dengan pepohonan lembah jalan Wadi, mengadukan kerinduan-nya di bawah sinar bulan dan bercerita bersama binatang malam lalu melantunkan nyanyian pujian kebesaran sang Pencipta.

    Sampai di tempat tujuan, Haikal segera berkemas dan dengan cepat menyusuri jalan yang menuju lembah. Lembah wadi adalah nama sebuah tempat yang di penuhi dengan pepohonan, terutama kurma, anginnya bertiup segar. Lembah itu sangat indah, di tepiannya mengalir sungai nile. Konon burung-burung diantara rimbunnya pepohonan sana hanya dapat bernyanyi khusus untuk mereka yang sedang jatuh cinta saja. Haikal tidak ingin membuang banyak waktu, untuk sampai di daerah pepohonan yang rimbun, ia harus memotong jalan di sebelah barat lembah, walaupun jalan itu berliku, tapi dari sana ia bisa menghemat waktu setengah jam dan dapat tiba di lokasi sebelum matahari terbenam.

    Setelah sampai di lokasi yang agak sepi Haikal segera menyiapkan segala kebutuhannya, matahari hampir tenggelam, ia sengaja mencari tempat sepi yang belum pernah di jamah orang, karena dari sana ia bisa melihat pemandangan yang masih asli, tanpa campur tangan mereka yang serakah dan jahat. Di antara kesibukannya menyusun tempat, Haikal mendengar suara yang memanggilnya tak jauh dari arah belakangnya, ia segera menuju ke sumber suara, ternyata suara itu berasal dari seorang gadis Indonesia yang sepertinya ia kenal, pakaiannya terlihat sedikit compang-camping dan kotor, ia ngos-ngosan, wajahnya bening bagaikan embun pagi yang masih terjebak pada pucuk anggrek.

    Haikal memberanikan diri.
    Haikal : Assalamu’alaikum!
    Gadis : wa’laikumussalam
    Haikal : indonisiyah wala thailandiyah?
    Gadis : Indo mas!
    Haikal : oo, maaf ngapain disini ? dah sore bos?
    Gadis : Itu Hp sampean tadi jatuh di kursi bus, kebetulan saya lihat, saya panggil pean ga denger…..
    Haikal : Ooooo,, jadi dari tadi situ ngikutin gue? (betawinye keluar)
    Gadis : Iya mas! Nih HP nya, awas jangan sampe jatuh lagi!
    Haikal : hehe iya mbak, kantong saya cetek sih, oya makasi ya!
    Gadis : Sama-sama
    Haikal : Maaf ! kalau boleh tahu situ siapa namanya ?
    Gadis : Nayla Tsaniah, Mahasiswi Tarbiyah semester 3.
    Haikal : Oo… saya Ahmad Haikal, emang mbak ini mau kemana kok satu arah tadi?
    Nayla : Saya tinggal di daerah sini mas, kos buat mahasiswi.
    Haikal : ooo makasih deh untung ada mbak, kalo gak nomor-nomor rumah
    Nayla : Ya sama-sama.

    Pembicaraan singkat mereka berakhir karena Adzan magrib. Matahari pun tenggelam di lembah, menutup –sementara- pembicaraan antara dua remaja yang baru saling mengenal ini, pembicaraan antara gadis yang ikhlas menolong dengan pemuda yang HPnya jatuh. Mereka wudhu dengan sebotol air mineral yang dibawa haikal, lalu shalat magrib berjamaah disaksikan mega merah di langit, mereka khusuk dalam sholat dan menikmatinya, ternyata tanpa disadari binatang pun iri hati dengan keduanya (menghayal). Setelah sholat mereka berpisah, Nayla pulang dan Haikal meneruskan Uzlahnya.

    Jakarta 2007.

    Pak Haikal masih dalam pandangannya ke arah Ibu, para hadirin yang sadar akan tindakan beliau tidak berbuat apa-apa, mereka mengira perempuan itu adalah istrinya. Acara Sidang di hentikan sementara, beliau lalu turun dari kursi dan berjalan ke arah Ibu itu, wajahnya berseri-seri, langkahnya pasti, gerakan tubuhnya sangat meyakinkan, seperti seorang mahasiswa muda yang menyusuri lembah 24 tahun lalu. Si Ibu tetap dalam tundukannya,.. Haikal lupa dengan para hadirin si sekitarnya.

    Haikal : Assalamuailaikum !!
    Ibu : Wa’alaikumussalam
    Haikal : Benarkah dugaan saya? Saya sangat bersyukur ternyata Allah SWT berkenan mempertemukan kita kembali, sudah lama saya tidak mendengar kabar anda…saya masih mengingat 20 tahun lalu ketika anda mengembalikan HP saya di Lembah Wadi
    Ibu : Saya juga senang kita bertemu disini, waktu itu kenapa gak Tanya no HP saya?
    Haikal : Itu dia yang saya lupa bu! Tapi doa tulus akan selalu ada, meski tak terucap lidah, gimana anda sudah berkeluarga dan tinggal dimana?

    Sang Ibu tertunduk, dalam tundukannya tersenyum, dalam senyuman-nya terpesona, lalu mengangkat wajahnya, dan memandang Pak Haikal, tetapi, tetapi, tetapi tiba-tiba ada suara yang berteriak di telinga Pak Haikal, ” woooiii bangun bangun,!!! kuliah!! Mau dighoib lagi loe???”.Itu suara Fachrul Faradillah, teman kuliah satu fakultas…..Haikal terbangun dari tidurnya.

    Remaja- remaji, muda-mudi, putra-putri, siswa-siswi yang selalu ketawa-ketiwi dan obrolannya tentang hati. (Maret 2007)

    more
  • BOS KAYU DI KAMPUNG DAN TUKANG MATREAL (BETAWI)
    Ceritenye ade orang kampung dateng ke ibukota Sudan, Khartoum, ternyata itu orang Bos Kayu dikampungnye, sampe di Khartoum die masuk toko matreal buwat nyari gergaji nyang paling tajem.

    Bos Kayu : Bang jualan gergaji nyang paling cepet motong pu'unan ga?
    Matreal : Ade nih, tapi barangnye hargenye agak mahalan dikit!
    Bos Kayu : Gapape deh lo jual gw beli!

    Akhirnye die beli juga tu gergaji trus langsung balik ke rumah...

    Besok pagi die balik lagi tuh ke tukang matreal, sambil ngedumel...
    Bos Kayu : Gimane si ah katenye ni gergaji bisa motong cepet, eh same aje malah tambe lame!!

    Si tkg matreal kaget, ah yg bener, coba lu pencet tu tombol merah!!..Tombol merah di pencet tiba-tiba…..ada suara "treeet ..treet…treeet"

    Bos Kayu kaget : ''Eh? Kok gergaji bisa bunyi?

    more
  • NASIB MUJUR
    ABU LAHAB

    Abdul Uzza nama aslinya, akrabnya dikenal dengan Abu Lahab. Salah satu dari gembong Quraisy. Paman Nabi Juga. Tsuwaibah tergesa-gesa mencari Tuannya Abu Lahab, karena ada sebuah berita yang ingin disampaikannya kepada tuannya itu bahwa anak saudaranya (Abdullah) telah lahir. Mendengar kabar itu dia gembira bukan main, karena gembiranya Tsuaibah sang budak yang mengabarkannya dimerdekakan.

    Karenanya, Abbas ibn Abdul Muthallib bermimpi sepeninggalan Abu Lahab, bahwa ia melihat Abu Lahab dalam mimpi diberi keringanan siksa pada setiap hari senin karena ia telah memerdekakan Tsuaibah*.

    Mujur buat Abu Lahab yang telah bergembira lantaran kelahiran Nabi. :-D

    HALIMAH AS SA'DIYAH

    Keledai kurus itu masih berusaha, ia berada di barisan terbelakang dari Kafilah Susuan yang datang dari kampung Bani Sa'ad (beberapa KM setelah Thaif) menuju kota Mekah untuk mencari anak susuan. Halimah dan suaminya tak mau ketinggalan, keluarga miskin itu sangat bersemangat. Ketika itu, sudah menjadi kebiasaan masyarakat untuk menitipkan bayi-bayi mereka kepada orang-orang kampung untuk disusui dan agar sang bayi dapat belajar bahasa arab fasih di perkampungan.

    Sampai di mekkah, kafilah segera berputar memburu bayi-bayi bangsawan dan jutawan, tak lama semua bayi sudah mendapatkan ibu susuannya, kecuali Bayi Agung itu, lantaran ia piatu dan bukan anak jutawan, tak ada seorangpun yg mau menyusuinya. Halimah dan suaminya yang terlambat sampai telah kehabisan bayi untuk disusui, kecuali satu bayai yang bernama Muhammad. Setelah berunding dengan suaminya dan agar tidak pulang dengan tangan kosong, bayi agung itu diambilnya.

    Baru saja digendong, Halimah mulai merasakan keanehan, badanya yg tadinya letih menjadi segar, keledainya yg tadinya kurus lesu menjadi kuat dan tegap, ia menyadari bahwa bayi yang ada dipelukannya itu bukanlah sembarang bayi. Kalau perginya ia berada dibarisan paling belakang, pulangnya ia berada di barisan terdepan, bahkan melampaui. Di Bani sa'ad, keluarga Halimah yang miskin berubah total pasca kedatangan bayi agung, kambing-kambingnya yang kurus dan kering, kini gemuk dan susunya penuh. Orang sekampung mengira Halimah mendapat bintang jatuh.

    Selamat buat Halimah binti Dzuaib as Sa'diyah dan keluarganya, anda telah memilih bayi yg tepat. :-D

    ___________________
    *lihat : Shahih Bukhari, kitab nikah, bab ayat "..dan perempuan-perempuan yang menyusui kalian.." dari hadis 'Urwah bin Zubair. lihat juga al-Mushannaf, Imam Shan'ani (7:478)

    more
  • DOWNLOAD MAKTABAH SYAMILAH SYIAH.
    10 Februari 2010. Buku-buku literatur Sunni mungkin udah bisa dijangkau dimana-mana, ada Maktabah Syamilah, Waqfeya, Saaid, dan Maktabah digital lainnya.... Namun kalo suatu saat kita mau mengoleksi buku-bukun karangan Ulama Syi'ah, baik untuk dipelajari, perbandingan atau hanya sekedar mau ngoleksi dsb.. de el el.., coba download 4 file ini :


    No 1-3 ukurannya 200 mb, yang no 4 kira-kira 70 mb. Karena ukurannya gede, harus didownload pake Download Manager, salah satunya Orbit. Klik disini untuk mendownload Orbit Manager. Oiya keempat file diatas formatnya Winrar Archieve, kalo blum punya winrar silahkan download disini.

    Setelah selesai download, masukkan semua file ke dalam satu folder baru, lalu klik kanan pada file pertama (part 1) dan pilih "Extract Here". Kalo udah akan muncul folder baru "e-shamela-shia" buka folder itu dan klik icon "shamela_" dua kali lalu install, selamat mencoba, kalo ada yang error atau linknya expired, jangan ragu untuk menghubungi saya.

    more
  • KERUSUHAN DI KHARTOUM DAN S2
    2 Februari 20010. Pagi ini di Surat Kabar “Shohafa” terbaca di depan halamanya dengan font besar “Tadzaahuratun amama maqorri ART, ihtijaajan 'ala 'adami bassi Umami Ifriqiya” yang artinya kurang lebih “Demonstrasi di depan Kantor ART (stasiun TV), dalam tuntutan tidak disiarkannya Piala Afrika”.

    Bola tendang lagi-lagi menyebabkan kerusuhan di Khartoum, belum rapet bibir kita ngomongin kubu Mesir yang "main urat" dengan Kubu Jazair, sekarang malah ada omongan baru lagi yang tak kalah serunya. Yaitu tentang ratusan pelanggan stasiun ART yang menuntut Pihak Stasiun TV langganannya atas tidak disiarkannya Piala Afrika, padahal siaran itu telah dijanjikan sebelumnya.

    Celakanya : Stasiun al’-Jazirah sport 2 menyiarkan siaran tersebut gratis.

    Akibatnya : Pelanggan ART yang sudah membayar iuran merasa kebakaran jenggot melihat tetangganya yang asyik nonton.

    Solusinya : Demi meredam amuk massa, pihak stasiun terpaksa mengembalikan sisa uang pembayaran dengan tetap memberikan hak siar TV.

    Selidik punya selidik, ternyata olah raga yang melibatkan 11 orang ini paling disenangi di Khartoum. Adalah sepak bola yang setiap jumat pagi dan sore memenuhi lapangan  di setiap sudut kota Khartoum, betapa indahnya melihat anak-anak bermain bola, tertawa lepas sambil berjingkrak-jingkrak. Sepertinya olah raga yang satu ini telah menyihir penduduk Sudan, bahkan tidak berlebih-lebihan kalau dikatakan sebagian besar penduduk dunia juga hobinya berbola ria, termasuk pula mereka yang tidak bisa menyundul bola.

    Ya, di satu sisi ada mereka yang mati-matian membela bola, sampai capek-capek demo. Sementara di sisi lain ada pihak yang tidak bertanggung jawab terhadap janjinya. Untungnya gue gak dipusingin ama hal nyang beginian, mending ngurus S 2 yang belum mendapatkan jawaban, jaka sembung bawa senter, ga nyambung pin...... (maksudnya mohon doa he he)

    more

Video

Aturan Pakai :

Kajian Spiritual adalah tulisan-tulisan lepas Miftahuddin Ahimy yang diperbaharui dari situs Kajian Spiritual Lama. Anda boleh menyalin dengan menyebutkan sumbernya. Klik disini untuk sharing.